Komunikasi Pertanian & Kesejahteraan Hidup Petani Kecil
Salah satu aspek penting dalam pembangunan
pertanian di daerah pedesaan adalah kebutuhan untuk meningkatkan
produksi pangan bagi kepentingan penduduk yang jumlahnya senantiasa
meningkat. Hal ini berlaku mutlak bagi negara-negara sedang berkembang
agar mereka dapat melaksanakan swasembada pangan. Salah satu ciri dari
pertanian di Indonesia adalah pemilikan lahan pertanian yang sempit,
sehingga dengan demikian pengusaha pertanian di Indonesia dicirikan oleh
banyaknya rumah tangga tani yang berusahatani dalam skala kecil.
Akibatnya, para petani di Indonesia sebahagian terdiri dari
petani-petani kecil dengan ciri dan karakteristik umum sebagai berikut:
(a) petani yang memiliki luas lahan sempit, yaitu: luasan lahan sawah:
< 0,25 ha (Jawa) dan < 0,50 ha (Luar Jawa) dan luasan lahan tegal:
0,50 ha (Jawa) dan 1,00 ha (Luar Jawa); (b) petani yang memiliki
produksi pangan rendah, yaitu < 240 kg beras/kapita/ tahun; (c)
petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas; dan
(4) petani yang memiliki pengetahuan yang terbatas dan kurang kurang
dinamis.
Pada umumnya, keadaan petani kecil di
negara-negara berkembang adalah beragam namun tetap pada batas-batas
penguasaan sumberdaya yang terbatas. Petani kecil seperti ini sering
melakukan usahataninya dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang
semakin lama semakin meningkat. Sebagai akibat sumber-sumber yang
dimiliki petani sangat terbatas, maka tingkat kehidupannya juga serba
“pas-pasan” bila tidak ada bantuan dari sumber lain di luar bidang
pertanian. Akibatnya, seringkali ditemukan bahwa dalam penguasaan lahan
pertanian yang terbatas dari petani, maka komoditi pertanian yang
diusahakan adalah komoditi untuk keperluan konsumsi sehari-hari.
Dalam kaitan dengan komunikasi pertanian,
maka upaya yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana melakukan
komunikasi dengan petani-petani kecil dengan segala keterbatasan yang
mereka miliki, agar pesan yang disampaikan melalui komunikasi pertanian
dapat diserap dan selanjutnya diterapkan dalam usahatani mereka. Dalam
metode penyuluhan pertanian, pengertian diterapkan dapat dijelaskan
sebagai berikut: (a) bagaimana petani kecil dapat bertani atau
berusahatani dengan cara yang lebih baik, misalnya cara bercocoktanam,
cara memelihara kesuburan tanah, cara memperlakukan teknologi lepas
panen, dan sebagainya; (b) bagaimana petani kecil mampu dan mau
berusahatani secara menguntungkan, baik dalam usahatani secara
monokultur ataupun secara tumpangsari; dan (c) bagaimana petani kecil
mampu meningkatkan kesejahteraannya atau bagaimana mereka dapat hidup
sejahtera.
Dengan demikian, peranan komunikasi
pertanian terhadap kehidupan petani kecil di Indonesia adalah sangat
penting dalam meningkatkan kesejahteraan hidup petani dan keluarganya.
Dalam proses komunikasi pertanian sendiri bukan saja dilakukan melalui
cara satu arah (one-way traffic), tetapi juga dua arah (two-way traffic),
yang tentu perlu diperhatikan aspek lingkungan atau sistem sosial yang
ada disekelilingnya. Berhubung karena sistem pertanian di Indonesia
dicirikan oleh adanya banyak petani kecil, maka komunikasi pertanian
sangat bermanfaat kalau diperhatikan kelompok sasaran petani kecil ini.
Perlu diingat bahwa ciri petani kecil ini sangat kondisional di mana
kehidupan petani kecil yang tinggal di satu daerah tentu berbeda dengan
petani kecil lain yang tinggal di daerah lain, sehingga pelaksanaan
pemberian pesan dari komunikator dalam melaksanakan komunikasi
pertanian, perlu pula diperhatikan lingkungan seperti ini.
Metode Pendekatan
Dalam melakukan komunikasi pertanian kepada
masyarakat telah dikenal dua metode pendekatan, yaitu: (1) pendekatan
berdasarkan kelompok sasaran dari inovasi, dan (2) pendekatan
berbasarkan cara penyampaian isi pesan yang terkandung dalam inovasi
tersebut. Kedua metode pendekatan ini akan dibahas secara terpisah.
Metode Pendekatan Sasaran
Berdasarkan kelompok sasaran, maka metode pendekatan komunikasi ini dapat dilakukan melalui:
Metode pendekatan massa (mass approach method)
Cara pendekatan komunikasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan
pengetahuan awal serta kesadaran bagi petani
tentang suatu inovasi yang berguna dalam meningkatkan hasil produksi
usahatani mereka. Penyampaian pesan melalui cara ini biasanya
disampaikan dalam pertemuan massal, melalui media massa: televisi,
koran, film dan sebagainya. Pendekatan ini kurang efektif bagi
petani-petani di Indonesia umumnya dan di Nusa Tenggara Timur khususnya,
karena beberapa faktor berikut: (a) tidak bisa dipantau ataupun
dievaluasi secara pasti keberhasilan yang telah dicapai oleh para
petani; (b) wilayah jangkauan pendekatan sasaran terlalu luas; (c)
rendahnya daya tangkap masyarakat petani, karena mereka rata-rata
berpendidikan sangat rendah; dan (d) harga beberapa media yang digunakan
seperti televisi dan koran sangat sulit dijangkau oleh tingkat ekonomi
para petani.
Metode pendekatan kelompok (group approach method)
Cara pendekatan komunikasi ini dilakukan
melalui penyampaian informasi inovasi kepada petani yang tergabung dalam
kelompok-kelompok petani, baik kelompok-kelompok petani tradisional,
seperti Subak di Bali dan kelompok-kelompok petani yang sengaja dibentuk
untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti kelompnecapir di TVRI, Kelompok
Tani dan Nelayan, Kelompok Swadaya Masyarakat, dan sebagainya. Dalam
kegiatan komunikasi penyuluhan pertanian di Indonesia, pendekatan
kelompok sudah menjadi metode dalam pembinaan dan pengembangan
sumberdaya manusia di desa maupun di kota dalam rangka meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Dipandang dari segi komunikasi
informasi, maka pendekatan kelompok ini jauh lebih efektif jika
dibandingkan dengan pendekatan massa, karena mempunyai beberapa
keuntungan, sebagai berikut: (a) penyebaran inovasi teknologi dapat
dipantau atau dievaluasi secara baik karena jumlah anggota sasarannya
jelas; (b) d antara anggota kelompok yang satu dengan yang lainnya dapat
saling memberi dan menerima informasi, terutama tentang hal-hal yang
belum jelas; (c) akan terjadi akumulasi modal (fisik maupun non-fisik)
sehingga dapat memperlancar jalannya komunikasi dalam kelompok yang
bersangkutan; (d) antara anggota kelompok dapat dilakukan reward and punishment system secara efektif dan efisien; dan (e) lebih menghemat biaya, tenaga dan waktu, tetap akan diperoleh hasil yang jauh lebih baik.
Sebaliknya, pendekatan kelompok juga mempunyai beberapa kelemahan, sebagai berikut:
(a) jika manajemen kelompok kurang baik,
maka akan terjadi penyimpangan, baik penyimpangan penyebaran informasi
maupun penyimpangan pembagian keuntungan dari suatu inovasi; (b)
komunikasi akan tidak efektif jika jenis usaha anggota kelompok beragam;
dan (c) kemungkinan akan muncul kaum elit tertentu dalam kelompok
apabila tidak diarahkan secara baik sehingga akan menghambat kehidupan
berdemokrasi kelompok; dan (d) rendahnya keterampilan para petani dalam
kehidupan kelompok/berorganisasi.
Metode pendekatan individu (personal approach method)
Cara pendekatan ini dilakukan dengan cara
mengunjungi para petani satu per satu, baik ke rumah petani maupun di
kebun petani ataupun tempat-tempat tertentu yang memungkinkan untuk
dilakukan komunikasi inovasi. Keuntungan-keuntung an dari metode
pendekatan perorangan, antara lain: (a) petani yang dikunjungi seorang
petugas merasa dihargai oleh petugas yang melakukan komunikasi
pertanian; (b) meningkatkan kepercayaan diri petani karena komunikasi
ini dapat dilakukan dari hati ke hati; (c) petani dapat menyampaikan
segala macam keluhan/masukan- masukan bagi petugas/penyuluh tanpa merasa
canggung dan malu dengan sesama teman petani; (d) petugas/penyuluh
dapat menggali semua masalah serta kebutuhan maupun hambatan-hambatan
yang dihadapi petani selama berusahatani; dan (e) petugas/penyuluh dapat
memberikan informasi yang cocok dengan kebutuhan serta masalah petani
pada saat itu. Sebaliknya, metode pendekatan ini juga memiliki beberapa
kelemahan, antara lain: (a) tidak bisa menjangkau petani dalam jumlah
yang banyak; (b) memakan waktu yang lama; (c) membutuhkan biaya yang
tinggi; dan (d) membutuhkan banyak tenaga petugas/penyuluh.
Metode Pendekatan Materi
Berdasarkan cara penyajian inovasi dalam
rangka lebih menjamin efektivitas hasil komunikasi (khususnya dalam
pertemuan kelompok), maka digunakan pendekatan gabungan berikut: (a)
ceramah, diskusi dan tanya jawab; (b) demonstrasi cara dan demonstrasi
hasil; dan (c) penggunaan alat bantu flipchart dan folder. Penggunaan metode gabungan ini cukup efektif, baik dalam mewujudkan komunikasi dua arah (two-way traffic communication)
maupun peningkatan pemahaman serta kemampuan menerapkan inovasi yang
diberikan. Dengan demikian, para petani akan lebih memahami dan mengerti
tentang cara-cara menerapkan inovasi dalam praktek usahatani mereka.
Proses Partisipasi
Partisipasi dapat diartikan sebagai tingkat
keterlibatan anggota sistem sosial dalam pengambilan keputusan. Namun,
bila dicermati dengan baik, maka pengertian tidak hanya terbatas pada
keterlibatan dalam mengambil keputusan, tetapi meliputi pengertian yang
lebih luas, meliputi proses perencanaan, pengambilan keputusan,
pelaksanaan, evaluasi dan menikmati hasil pembangunan.
Dalam banyak kenyataan, banyak program
pembangunan yang gagal alaupun telah didahului dengan analisis untuk
mengembangkan peran serta aktif masyarakat, tetapi tidak dikomunikasikan
secara efektif dan efisien kepada masyarakat. Oleh karena itu, dalam
mengembangkan program pembangunan yang perlu diutamakan adalah
terciptanya peran serta aktif (partisipasi) positif dari masyarakat
dalam pembangunan lewat dilakukannya komunikasi yang baik. Pada umumnya,
analisis proses partisipasi atau peran aktif masyarakat dalam
pembangunan meliputi empat tahap, yaitu:
Tahap penumbuhan ide untuk membangun dan perencanaan
Dalam tahap ini harus dilihat, apakah
pelaksanaan program pembangunan tersebut didasarkan atas ide atau
gagasan yang tumbuh dari kesadaran masyarakat sendiri atau diturunkan
atas. Jika ide atau gagasan untuk membangun datang dari masyarakat
sendiri karena didorong oleh tuntutan situasi dan kondisi yang
menghimpit mereka, maka peran serta aktif masyarakat pasti akan lebih
baik. Sebaliknya, ide atau gagasan diturunkan dari atas tanpa melibatkan
masyarakat, maka bisa dipastikan program pembangunan gagal karena tidak
ada peran serta aktif masyarakat. Dengan perkataan lain, jika
masyarakat ikut terlibat dalam proses perencanaan untuk membangun
daerahnya, makan dapat
dipastikan bahwa seluruh anggota masyarakat
merasa dihargai sebagai manusia yang memiliki potensi atau kemampuan
sehingga mereka lebih mudah berperan serta aktif atau berpastisipasi
dalam melaksanakan, melestarikan program pembangunan tersebut.
Tahap pengambilan keputusan
Landasan filosofi dalam tahap ini adalah
setiap orang akan merasa dihargai jika mereka diajak untuk berkompromi,
memberikan pemikiran-pemikiran dalam membuat suatu keputusan untuk
membangun diri, keluarga, daerah, bangsa dan negaranya. Keikutsertaan
anggota atau seseorang di dalam pengambilan suatu keputusan secara
psikososial telah memaksa anggota masyarakat yang bersangkutan untuk
turut bertanggung jawab dalam melaksanakan, mengamankan setiap paket
program yang dikomunikasikan, karena mereka merasa memiliki serta
bertanggung jawab secara penuh atas keberhasilan program yang
dilaksanakan. Dengan demikian, dalam diri masyarakat, akan tumbuh rasa
tanggung jawab secara sadar, kemudian berprakarsa untuk berpartisipasi
secara positif terhadap setiap paket pembangunan untuk meningkatkan
pendapatan, kesejahteraan diri dan keluarga semua masyarakat.
Tahap pelaksanaan dan evaluasi
Landasan filosofi dalam tahap ini adalah prinsip learning by doing dala
metode belajar orang dewasa. Tujuan melibatkan masyarakat dalam tahap
pelaksanaan adalah : (1) agar masyarakat dapat mengetahui secara baik
tentang cara-cara melaksanakan program sehingga nantinya mereka dapat
secara mandiri mampu melanjutkan, meningkatkan, dan melestarikan program
pembangunan yang dilaksanakan, dan (2) untuk menghilangkan
kebergantungan masyarakat terhadap pihak luar dalam hal ini komunikator
atau penyuluh yang selama ini selalu terjadi dan akan menjamin bahwa
program pembangunan itu sendiri tidak akan lenyap serta merta setelah
kepergian para petugas dari desa atau wilayah yang bersangkutan.
Sedangkan, dalam hal mengevaluasi,
masyarakat diarahkan untuk mampu menilai sendiri, dengan mengungkapkan
tentang apa yang mereka tahu dan lihat. Masyarakat diberikan kebebasan
untuk menilai sesuai dengan apa yang ada dalam benak mereka, pengalaman,
kelebihan atau keuntungan dari program pembangunan, kelemahannya,
manfaat, hambatan, faktor pelancar yang mereka hadapi dalam
operasionalisasi program dan secara bersama-sama memcarikan alternatif
terbaik sebagai bahan pertimbangan bagi pelaksanaan program pembangunan
atau kegiatan pembangunan di waktu yang akan datang.
Tahap pembagian ekonomis
Tahap ini ditekankan pada pemanfaatan
program pembangunan yang diberikan secara merata kepada seluruh anggota
masyarakat dalam desa atau wilayah yang bersangkutan. Pertimbangan pokok
dalam menerapkan suatu program jika dilihat dari aspek keuntungan
ekonomis adalah program tersebut akan memberikan kesuksesan secara
ekonomis kepada seluruh atau sebagian besar masyarakat. Akibatnya,
masyarakat sendiri yang tentu melihat dan merasakan aspek ekonomis dari
pembangunan tersebut, apakah manfaat ekonomisnya dirasakan oleh semua
anggota masyarakat dan keluarga, hanya untuk sebagian masyarakat saja,
ataukah hanya untuk segelintir orang-orang tertentu saja.
Di dalam pelaksanaannya harus diakui bahwa
tidak mudah untuk menerapkan keempat tahapan di atas, karena
keterbatasan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam hal
perencanaan, pengambilan keputusan, evaluasi serta menghitung
kemanfaatan secara ekonomis. Akan tetapi dengan pendekatan analisis
partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan komunikasi program pembangunan
pertanian kepada masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, sebaiknya
diwujudkan bottom up planning yang seimbang dengan top down planning yang selama ini diterapkan.
Pola Peran Serta Aktif Masyarakat Pedesaan
Dalam perkembangannya, partisipasi terbagi
ke dalam dua pola, yaitu: pola partisipasi secara individu dan pola
partisipasi secara kelompok. Seorang yang inovatif dan aktif dalam
setiap kegiatan pembangunan akan sangat membantu dirinya beserta
keluarganya untuk meningkatkan taraf hidup secara ekonomis maupun
spiritual. Namun sebagai makluk sosial (dapat hidup jika ada orang
lain), maka pola individu harus dikembangkan kepada anggota lain
sehingga tercipta pola partisipasi secara kelompok atau secara
menyeluruh.
Perkembangan kehidupan masyarakat saat ini
yang telah berada dalam era globalisasi, demokrasi dan keterbukaan,
membuka peluang sangat besar untuk saling bersaing dalam berpartisipasi
untuk melaksanakan pembangunan. Bagi para petani yang memiliki berbagai
keterbatasan akan selalu terjepit di antara kaum elite di desa. Hal ini
sangat tidak menguntungkan bagi peningkatan produksi usahatani serta
kesejahteraan para petani dan keluarganya. Pada kenyataannya, petani
yang memiliki modal besar akan memiliki peluang yang lebih leluasa
dibandingkan dengan petani kecil dalam melaksanakan pembangunan.
Walaupun demikian, partisipasi secara individu dalam memajukan dirinya
tidak dilarang karena dari mereka diharapkan dapat mengimbas kepada
petani yang lain (sesuai dengan hubungan patron klien, atau budaya anut
masyarakat Indonesia). Hubungan patron klien yang harmonis akan dapat
mengekang berkembangnya kontradiksi masalah antara yang dihadapi oleh
kaum priyayi (orang-orang yang berkecukupan) dengan yang dihadapi oleh
kaum proletariat (kaum miskin yang jumlahnya sangat banyak).
Berbagai pendekatan program pembangunan
dewasa ini lebih banyak menggunakan pendekatan kelompok. Oleh karena
itu, pola partisipasi juga harus dilihat secara berkelompok. Suatu
kelompok memiliki unsur-unsur kelompok yang bekerja dalam satu sistem.
Interaksi setiap unsur dalam satu sistem menimbulkan suatu dinamika,
yaitu kekuatan-kekuatan dalam kelompok. Dinamika kelompok akan membentuk
karakteristik bersikap dan bertindak sehingga mewujudkan suatu
kemampuan anggota secara berkelompok untuk berpartisipasi secara aktif
dalam pelaksanaan pembangunan.
Pada umumnya, partisipasi petani dalam kelompok dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
(a) Manfaat rencana kerja kelompok; (b)
Pengakuan kelompok terhadap karya anggota; (c) Kebenaran norma yang
dijadikan alat ukur; (d) Kemampuan kelompok inti dan kelompok khusus
untuk menyelesaikan masalah; (e) Manfaat informasi yang diterima; (f)
Kepemimpinan kelompok inti; (g) Kejujuran kelompok inti; (h) Pengakuan
dan dukungan sesama anggota; (i) Keuntungan ekonomis yang didapat; dan
(j) Kelancaran pelayanan sarana .
Dalam mengembangkan partisipasi anggota
biasa digunakan pendekatan ‘Participatry’ Action Model’ (PAM). Landasan
filosofi dari PAM adalah ceritera kepada orang dewasa memprovokasi
mereka melakukan reaksi (telling adults provokes reaction), tunjukan kepada mereka membangkitkan imaginasi (showing them triggers the imagination), ikutsertakan mereka memberi mereka pemahaman (involving them gives them understanding), berdayakan mereka membuat mereka bertekad dan beraksi (empoweringthem leads to commitment and action).
Model ini dikembangkan oleh Prof. S. Chamala
berdasarkan beberapa pertimbangan berikut: (a) tujuan pembangunan
adalah meningkatkan kemampuan aggota masyarakat lokal khususnya dan
masyarakat umum; (b) masyarakat memiliki hak dan tanggung jawab di dalam
pembangunan untuk menentukan masa depan mereka sendiri, tetapi mereka
tidak mengetahui mekanisme dalam menyalurkan kemampuan mereka untuk
berpartisipasi dalam pembangunan di era demokrasi dewasa ini; (c)
masyarakat dapat menciptakan struktur untuk membangun kelompok maupun
perorangan yang memungkinkan mereka dapat berperan aktif dalam berbagai
tindakan terutama konservasi lahan dan air; dan (d) PAM dibutuhkan,
karena:
(i) pembangunan pedesaan sekarang ini
semakin kompleks, (ii) pemerintah memiliki keterbatasan dalam
sumberdaya, dan (iii) dibutuhkan sistem keahlian yang didasarkan pada
pengetahuan dari masyarakat bawah (grass roots).
Strategi Praktis Melakukan Persiapan Sosial dalam Komunikasi Inovasi Pertanian.
Tuntutan yang sangat mendesak dewasa ini
adalah perlu dilakukannya upaya persiapan sosial kepada masyarakat
penerima program pembangunan. Berdasarkan pengalaman selama ini, banyak
program pemerintah tidak dapat berhasil sesuai dengan rencana karena
masyarakat sering bersikap apatis terhadap setiap program pembangunan.
Sikap apatis masyarakat ini muncul karena masyarakat sendiri memang
benar-benar tidak mengetahui, tidak, mengerti tentang program
pembangunan atau paket teknologi yang diperkenalkan kepada mereka. Oleh
karena itu, masyarakat harus dipersiapkan secara sosial agar secara
mental mereka mengerti, memahami dan akhirnya mereka mau menerima
program pembangunan.
Berdasarkan hasil refleksi pelaksanaan
program pembangunan masa lalu dan mengantisipasi perkembangan masyarakat
di waktu yang datang serta memahami masyarakat saat ini, maka kini
sudah banyak dilakukan persiapan sosial terlebih dahulu kepada
masyarakat sebelum diterapkan setiap program atau inovasi kepada
masyarakat. Berdasarkan pengalaman yang dihimpun dari para petugas
lapangan, baik berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun
Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM), maka dalam melakukan
persiapan sosial kepada masyarakat sebelum mereka menerima suatu program
inovatif, dapat dilakukan dalam dua tahap, yaitu:
Tahap Persiapan
Tahap ini merupakan upaya untuk menciptakan
iklim prakondisi yang kondusif. Tujuan dilakukan tahap persiapan adalah
untuk pengenalan petugas dan program oleh masyarakat, motivasi dan
memperoleh dukungan dari masyarakat, memberikan penjelasan tentang
program atau inovasi yang akan diberikan yang memenuhi syaratsyarat
sosial dapat diterima, secara ekonomis menguntungkan dan secara teknik
dapat dilaksanakan oleh masyarakat maupun oleh lembaga pemberi program
itu sendiri.
Program yang diberikan tentu telah sesuai dengan kebutuhan, masalah hasil analisis data dari studi pendahuluan.
Mekanisme persiapan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut di atas, sebagai berikut:
1. Meminta dukungan dan pendapat masyarakat terutama elite desa sebelum
musyawarah dimulai, dengan cara :
Kunjungan pribadi kepada tokoh atau kaum
elite desa. · Kunjungan pribadi kepada tokoh masyarakat lainnya yang
dianggap berpengaruh. · Kunjungan lain yang dianggap perlu sesuai dengan
kondisi masyarakat setempat. · Membaur dengan masyarakat setempat
sesuai dengan adat dan budaya masyarakat setempat.
2. Mengadakan pendekatan dengan berbagai
lembaga sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Kerja sama
dengan aparat desa dan lembaga desa lainnya yang terkait perlu
digalakkan karena baik aparat maupun lembaga desa merupakan wadah
penampung aspirasi masyarakat sekaligus menjadi wadah untuk menumbuhkan
peran serta aktif positif anggota masyarakat dalam setiap program
pembangunan. Melibatkan kelompokkelompok yang ada dalam masyarakat, baik
yang dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu maupun kelompok yang
berkembang secara spontanitas sebagai bentuk kepedulian masyarakat
sendiri untuk membantu kemudahan-kemudahan memperoleh tambahan
pendapatan dan sebagainya. Kerja sama ini bertujuan untuk memudahkan
dalam mengetahui masalah-masalah yang sedang dirasakan oleh masyarakat
pada saat itu.
3. Menjajaki dan mengkonfirmasikan kepastian
waktu pelaksanaan musyawarah, materi yang akan dimusyawarahkan,
siapa-siapa yang hadir, kapan dan bagaimana mekanisme musyawarah
dilangsungkan.
Tahap Pelaksanaan Musyawarah
Hal-hal yang dilakukan oleh petugas dalam tahap ini, sebagai berikut:
1. Pertemuan musyawarah, sebaiknya
musyawarah ini dibuka oleh tokoh masyarakat setempat, seperti Kepala
Desa atau tokoh masyarakat lainnya yang dituakan dalam masyarakat
setempat.
2. Penjelasan maksud dan tujuan musyawarah
dilakukan oleh petugas yang bertindak sebagai nara sumber atau pemandu
dengan menawarkan acara musyawarah, lalu meminta pendapat dari peserta
musyawarah serta menanyakan juga bagaimana sebaiknya musyawarah
sebaiknya dilaksanakan.
3. Mengemukakan pendapat untuk mencapai mufakat :
Pemandu (petugas lapangan) menjelaskan topik-topik musyawarah, lalu :
– Peserta mengemukakan masalah yang dirasakan oleh diri sendiri atau dirasakan oleh masyarakat.
– Peserta dapat menentukan mana
masalah yang penting dan mana masalah yang kurang penting. Penjelasan
tahap musyawarah dilakukan secara bertahap, sebagai berikut:
– Musyawarah tahap pertama dilakukan
dalam kelompok kecil, yaitu berjumlah 1 – 5 orang guna menjamin
efektivitas pelaksanaan musyawarah:
– Petugas lapangan menjelaskan bahwa
dalam kelompok kecil harus mendengar pendapat dari setiap peserta
tentang masalah atau kesulitan yang sedang dialami.
– Hasil musyawarah ini harus dibahas
kemblai untk mendapatkan masalah yang memenuhi skala prioritas dan
dipilih atas kesepakatan bersama.
Musyawarah tahap kedua dilakukan dalam
bentuk gabungan-gabungan dari kelompok-kelompok kecil dalam musyawarah
pertama. Hasil musyawarah kelompok besar ini akan memperoleh masalah
yang harus dilakukan secara bersama oleh masyarakat beserta para
petugas, kemudian disusun rencana tindak lanjut untuk pemecahan masalah.
Hal-hal yang harus mendapat perhatian dalam menyusun rencana kerja
sebagai tindak lanjut hasil musyawarah ini adalah bentuk kegiatan,
tujuan yang jelas, metode yang digunakan harus tepat sesuai kondisi
masyarakat dan masalah yang ada, waktu pelaksanaan (baik volume kegiatan
maupun frekwensi kegiatan), langkah-langkah operasional, siapa-siapa
yang terlibat di dalamnya serta biaya-biaya dan peralatan yang
dibutuhkan.
Kondisi Sosial Budaya Petani Indonesia
Bila membicarakan peranan sektor pertanian
dalam pembangunan nasional Indonesia dan kemampuan sektor ini untuk
bersaing di masa mendatang, maka masalah utamanya terletak pada kondisi
sosial-budaya dari para petani Indonesia. Berdasarkan data statistik
yang ada, sekitar 75% penduduk Indonesia saat ini tinggal di wilayah
pedesaan. 54% dari jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan,
menggantungkan hidup mereka dari sektor pertanian dengan tingkat
pendapatan yang relatif rendah, bila dibandingkan dengan mereka yang
tinggal di daerah perkotaan. Perbedaan pendapatan tersebut berkait erat
dengan produktivitas para petani Indonesia, sementara hal ini tidak
dapat dilepaskan dari berbagai faktor, antara lain luas lahan yang
dimiliki, kebijakan pemerintah dalam pemberian intensif pada petani, dan
sebagainya.
Para sosiolog pertanian Indonesia mengalami
kesulitan apabila harus mengaplikasikan dua konsep yang berasal dari
sosiologi Barat yang membedakan penggunaan kata “peasants” dan “farmers”. “Peasant”
adalah petani yang memiliki lahan yang sempit dan memanfaatkan sebagian
terbesar dari hasil produksi pertaniannya untuk kepentingannya sendiri,
sehingga “peasant” sering disebut “subsistance farmer”. Sedangkan “farmers” adalah orang-orang yang hidup dari mengolah tanah pertanian tetapi berbeda dengan “peasants”, karena “farmers”
menjual bagian terbanyak dari hasil pertanian mereka dan akrab
menggunakan tekonologi pertanian yang modern, sehingga mereka sering
disebut “commercial farmers”. Dalam perbendaharaan kata bahasa
Indonesia, tidak ada kata yang berbeda bagi mereka yang hidup dari
usahatani, sehingga hanya digunakan satu kata, yaitu petani.
Apabila dilihat dari luas lahan yang
dimiliki oleh para petani Indonesia (< 0,5 ha/petani), maka dapat
dikatakan bahwa para petani Indonesia dapat digolongkan sebagai “peasants” atau “subsistance famers” dan bukan “farmers”
seperti halnya para petani di negaranegara maju, seperti Inggris,
Amerika Serikat dan Australia. Dari segi pendidikan, sebagian besar
petani Indonesia berpendidikan Sekolah Dasar (SD: 40,73%) dan bahkan
yang tidak tamat SD juga tergolong banyak (47,33%). Sedangkan, petani
yang mempunyai pendidikan SLTA hanya sebesar 4,62% dan pendidikan tinggi
(akademi/universita s) tergolong paling sedikit sekali (0,39%). Dari
data-data tersebut atas, maka tepatlah dikatakan bahwa petani Indonesia
cocok disebut sebagai “peasants” dimana sebutan yang tepat
adalah “petani gurem”. Data-data ini menunjukkan mutu atau kualitas
sumberdaya manusia yang dimiliki oleh sektor pertanian Indonesia.
Sumberdaya petani Indonesia yang rendah ini merupakan salah satu sebab
utama dari rendahnya produktivitas para petani Indonesia.
Kondisi rendahnya mutu sumberdaya manusia
ini, menjadi lebih memprihatinkan apabila dilihat usia dari para petani
Indonesia : 25 – 54 tahun (76,2%) dan > 55 tahun (21,46%).
Umur-rata-rata petani Indonesia cenderung tua ini sangat berpengaruh
pada produktivitas sektor pertanian Indonesia, karena petani yang
berusia tua cenderung sangat konservatif dalam menyikapi terhadap
perubahan atau inovasi teknologi.
Petani ini pada umumnya tergolong petani
gurem, dan harus mengusahakan usaha tani di dalam lingkungan tropika
yang penuh resiko seperti banyak hama, tidak menentunya curah hujan, dan
sebagainya. Dalam kondisi yang penuh resiko ini, para petani sangat
berhati-hati dalam menerima inovasi, karena apabila mereka gagal
memanfaatkan inovasi berarti seluruh keluarga mereka pun turut
menderita.
Walaupun para petani Indonesia berada dalam kondisi yang dilematis, namun untuk bisa “survive”
di masa mendatang, mereka harus berani mengambil resiko untuk menerima
inovasi, karena inovasi akan menjamin peningkatan produktivitas
usahatani mereka, sehingga mereka mampu bersaing dengan petani-petani
dari negara-negara lain dalam memasarkan produksi pertanian mereka di
pasar bebas nanti.
Daftar Pustaka
Eduard Depari, 1985, Peranan Komunikasi Massa Dalam Pertanian, Gajahmada University Press
Levis, L.R. dan Y.L. Henuk, 2005. Komunikasi Pertanian. Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana, Kupang.
NAMA : WINDA SEPTIA RINI
NIM : 201510210311132
KELAS : AGRIBISNIS VI C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar