TAHAPAN ADOPSI
Pada dasarnya, proses adopsi pasti melalui
tahapan-tahapan sebelum masyarakat mau menerima/menerapkan dengan
keyakinannya sendiri, meskipun selang waktu antar tahapan satu dengan
yang lainnya itu tidak selalu sama (tergantung sifat inovasi,
karakteristik sasaran, keadaan lingkungan (fisik maupun sosial), dan
aktivitas/kegiatan yang dilakukan oleh penyuluh).
Tahapan-tahapan adopsi itu adalah:
1) awareness, atau kesadaran, yaitu sasaran mulai sadar tentang adanya inovasi yang ditawarkan oleh penyuluh.
2)
interest, atau tumbuhnya minat yang seringkali ditandai oleh
keinginannya untuk bertanya atau untuk mengetahui lebih banyak/jauh
tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan inovasi yang ditawarkan
oleh penyuluh.
3) evalution atau penilaian terhadap baik/buruk atau
manfaat inovasi yang telah diketahui informasinya secara lebih lengkap.
Pada penilaian ini, masyarakat sasaran tidak hanya melakukan penilaian
terhadap aspek teknisnya saja, tetapi juga aspek ekonomi, maupun
aspek-aspek sosial budaya, bahkan seringkali juga ditinjau dari aspek
politis atau kesesuaiannya dengan kebijakan pembangunan nasional dan
regional.
4) trial atau mencoba dalam skala kecil untuk lebih
meyakinkan penilaiannya, sebelum menerapkan untuk skala yang lebih luas
lagi.
5) adoption atau menerima/menerapkan dengan penuh keyakinan
berdasarkan penilaian dan uji coba yang telah dilaku-kan/diamatinya
sendiri.
UKURAN ADOPSI INOVASI
Tergantung pendekatan ilmu
yang digunakan, adopsi inovasi dapat diukur dengan beragam tolok-ukur
(indikator) dan ukuran (ukuran).
Jika menggunakan ilmu komunikasi,
adopsi inovasi dapat dilihat jika sasaran telah memberikan tanggapan
(respons) berupa perubahan perilaku atau pelaksanaan ke-giatan seperti
yang diharapkan (Berlo, 1961). Di lain pihak, jika menggu-nakan
pendekatan ilmu pendidikan, adopsi inovasi dapat dilihat dari terjadinya
perilaku atau perubahan sikap, penge-tahuan, dan ketrampilan yang dapat
diamati secara langsung maupun tak-langsung (Kibler, 1981).
Di lain
pihak, Dusseldorf (1981) mengukur tingkat adopsi dengan melihat jenjang
partisipasi yang ditunjukkan oleh sasaran penyuluhan (komunikasi
pembangunan), yaitu: paksaan, terinduksi, dan spontan.
Di dalam
praktek penyuluhan pertanian, penilaian tingkat adopsi inovasi biasa
dilakukan dengan menggunakan tolok-ukur tingkat mutu intensifikasi,
yaitu dengan memban-dingkan antara "rekomendasi" yang ditetapkan dengan
jumlah dan kualitas penerapan yang dilakukan di lapang.
Sehubungan
dengan itu, Totok Mardikanto (1994) mengukur tingkat adopsi dengan tiga
tolok-ukur, yaitu: kecepatan atau selang waktu antara diterimanya
informasi dan penerapan yang dilakukan, luas penerapan inovasi atau
proporsi luas lahan yang telah "diberi" inovasi baru, serta mutu
intensifikasi dengan membandingkan penerapan dengan "rekomendasi" yang
disampaikan oleh penyuluhnya.
NAMA : DANIL PRAYUDA PUTRA
NIM : 201510210311112
Tidak ada komentar:
Posting Komentar